Berita Terbaru

Sejarah Lanud Tanjungpinang

Written By david on Sabtu, 09 November 2013 | 10.29

Pembuatan Lapangan Terbang Kijang dalam masa peralihan antara Pemerintah Belanda dan Republik Indonesia sekitar tahun 1950-1952 Garuda (GIA) masih meneruskan penerbangan KNILM dengan pesawat Catalina dimana agen Garuda ini sejak awal ditangani oleh saudara Rachmat Kadir. Ada bukti bahwa tentara Jepang pernah merintis untuk mencari lokasi pembuatan lapangan terbang disekitar Lapangan Terbang Kijang yang sekarang ada, tetapi maksud Jepang tersebut tidak jadi terlaksanakan secara sempurna karena keburu kalah perang.

Tahun 1951-1952 tiba Team Survey dari Jakarta dimana survey ini segera dilanjutkan dengan pembangunan Lapangan Terbang oleh PU dan beberapa pemborong terkemuka dari Pinang pada saat itu.Tahun 1953 Lapangan Terbang Kijang diresmikan oleh Menteri Perhubungan Rl Bapak A.K. Gani dalam bentuk Lapangan terbang yang sederhana RUNWAY Bouksit yang diperkeras serta fasilitas penerbangan lainnya yang masih sangat minim. Tercatat yang melakukan pendaratan di lapangan terbang Kijang adalah pesawat Garuda (GIA) jenis Heron.

Lapangan Udara Yang Ada Di Sumatera

Surat Keputusan Kasau No. 61 tanggal 1 April 1957 menetapkan Pangkalan Angkatan Udara dan Datasemen Angkatan Udara yang berada di Sumatera sebagai berikut : Pangkalan Angkatan Udara Medan, Padang, Palembang. Datasemen Angkatan Udara : Iskandar (Bireuen), Maemun Saleh (Kola Raja), Lhoksumawe, abang, Payakumbuh, BukitTinggi, Branti, Astra Kestra. Dengan Surat Keputusan Kasau Nomor: 156 tanggal 1 Maret 1958 ditetapkan kembali Pangkalan Angkatan Udara dan Detasemen Angkatan Udara yang berada di Sumatera adalah: Pangkalan Angkatan Udara Sabang, Medan, Padang, Palembang. Detasemen Angkatan Udara: Iskandar, Maemun, Lhoksumawe, Paya Kumuh., Bukit Tinggi, Brauli, Astra Kestra, Pangkal Pinang. Dari kedua surat Keputusan Kasau yang otentik itu yang ditandai oleh Kepala Staf Angkatan Udara Laksamana Muda Udara S. Suryadarma dapat diambil kesimpulan bahwa hukum sampai dengan 1 Maret 1958 Detasemen Angkatan Udara Tanjung Pinang belum diresmikan.

Jembatan Udara Tanjung Pinang Pekanbaru

Meskipun Surat Keputusan Kasau yang terakhir tertanggal 1 Maret 1958 tidak tersebut nama Detasemen Angkatan Udara Tanjung Pinang namun pada awal sampai dengan mediao Maret 1958 itu juga di lapangan terbang Kijang Tanjung Pinang terjadi suatu operasi Udara secara besar-besaran dalam rangka penumpasan gerakan PRRI dan ada tanda-tanda adanya intervensi Asing di Sumatera.

Merupakan suatu kebutuhan yang mendesak untuk membentuk Jembatan Udara Tanjung Pinang Pekanbaru. Operasi tegas ini telah mengadakan serangan pendadakan Udara pada tanggal 12 Maret 1958 untuk merebut lapangan terbang Simpang Tiga Pekanbaru dari PRRI dan menggagalkan usaha intervensi yang pada saat itu kapal-kapal perang sudah masuk ke Sungai Siak sampai Dumai. Lapangan Terbang Kijang pada waktu itu merupakan basis bagi pasukan-pasukan APRI dan pesawat-pesawat TNI Angkatan Udara untuk melakukan operasi-operasi penerjunan dan pendaratan di Pekanbaru bahkan pada saat itu pernah dikonsentrasikan dilapangan terbang Kijang 40 buah pesawat terdiri dari 26 pesawat C-47 dakota, 10 Pesawat P-51 Mustang dan 4 pesawat B-25 Bomber Mitchell. Peristiwa ini merupakan suatu operasi udara yang terbesar yang pernah terjadi sampai saat ini di Pangkalan Udara Tanjung Pinang.

Pada tanggal 12 Maret 1958 kira-kira jam 04.30 pagi adalah merupakan hari "H" mulailah kedengaran di Radio kesibukan suara tower operator memberi petunjuk-petunjuk kepada pesawat yang kesiapan meninggalkan landasan Bandara Kijang. Mula-mula pesawat dimulai dari pimpinan Dakota, Disusul berikutnya oleh pesawat-pesawat B-25 yang dipimpin oleh Kapten Udara Sri Mulyono Herlambang yang mengangkasa  setelah  semua  pesawat C-47 Dakota  naik di  udara pesawat - pesawat P-51 Mustang. Semua Pesawat C-47 yang telah mengangkasa mengangkut pasukan PGT AURI dan RPKAD menuju lapangan udara Simpang Tiga Pekanbaru sebagai sasaran untuk direbut kembali dari tangan PRRI.

Dalam pertempuran sengit antara pasukan RPKAD dengan gerombolan mencapai bantuan dari pesawat-pesawat B-25 dengan tembakan Mitraliur kaliber 12,7 mm dan bom pesawat B-25 dengan Captain Pilot Letnan Udara Suwoto Sukendar kena tembakan sehingga terpaksa terbang dengan mesin satu menuju Tanjung Pinang, untuk itu diperlukan ketenangan dan kecermatan. Pesawat di "Trims" agar kontrol dapat berfungsi efektif karena terbang dengan menggunakan sebuah mesin pesawat.. Namun pesawat B-25 tersebut terus terbang tanpa kehilangan ketinggian menuju Tanjung Pinang dan mendarat dengan selamat. Dalam pertempuran di kubu tersebut gugurlah seorang perwira RPKAD yaitu Kapten Inf. Fadillah. Kubu tersebut akhirnya dapat direbut oleh RPKAD. Hari itu juga pesawat menuju ke Tanjung Pinang dan pada tanggal 13 Mei 1958 pesawat kembali ke Halim Perdana Kusuma Jakarta.

Pembentukan Datasemen Angkatan Udara Tanjung Pinang

Sesuai Surat keputusan Kasau nomor; 179 tanggal 16 Juli 1958 terhitung tanggal 1 Juli 1958 "DETASEMEN ANGKATAN UDARA TANJUNG PINANG" dinyatakan resmi berdiri. Hal itu dapat kita baca pada konsiderasi memutuskan yang berbunyi sebagai berikut:

MEMUTUSKAN

Menetapkan mulai tanggal 1 Juli 1958 diresmikan berdirinya "DETASEMEN ANGKATAN UDARA TANJUNG PINANG" dengan ketentuan-ketentuan tentang kedudukan tugas dan tanggung jawabnya.Dalam Surat Keputusan Kasau tersebut tidak dicantumkan atau dilampirkan nama Komandan yang pertama menjabat sebagai Komandan Detasemen Angkatan Udara Tanjung Pinang, hal ini dapat kita lihat pada pasal 3 (ketentuan) dari surat Keputusan Kasau nomor : 179 tersebut yang mengatur kekuatan personel dan materiil penunjangnnya yang berbunyi sebagai berikut: Kekuatan anggota serta alat-alat perlengkapan darat diterapkan.meskipun dari SK Kasau tersebut tidak langsung tercermin siapa Komandan pertama Angkatan Udara Republik Indonesia yang bertugas di Tanjung Pinang . (Detasemen Angakatan Udara Tanjung Pinang) namun untuk meningkatkan pembinaan tradisi dalam rangka memupuk "Sense Of Belongings" dari anggota Pangkalan Udara Tanjung Pinang, minimal secara pasti dan otentik tanggal 1 Juli 1958 dapat dijadikan patokan sebagai "Hari jadi Pangkalan Udara Tanjung Pinang yang pada mulanya berstatus sebagai Detasemen Angkatan Udara Tanjung Pinang.

Peranan Lanud Tanjung Pinang Dalam Operasi PRRI

Pada tahun 1958 di Sumatera disinyalir adanya usaha dari beberapa oknum untuk membentuk suatu pemerintah tandingan "Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia” dengan mengeluarkan ultimatum dan macam alasan serta tuduhan-tuduhan terhadap pemerintah pusat, serta adanya tanda-tanda intervensi asing di Sumatra.

Untuk menjaga kewibawaan dan harga diri NKRI pemerintah menolak ultimatum dan mengadakan serangkaian operasi untuk menumpasnya. TNI AU bersama angkatan lain dan rakyat ikut berperan aktif dalam penumpasan pemberontakan PRRl tersebut melalui Operasi Tegas, Saptamarga, 17 Agustus, Sadar, Insyaf, Merdeka dan lain-lain.

Dalam proses rencana operasi, AURI bersama angkatan lain berusaha untuk mengalihkan perhatian lawan agar tidak mengetahui rencana gerakan operasi yang sebenarnya. Untuk itulah AURI telah memusatkan kekuatan pesawat udaranya di Tanjung Pinang, sehingga pihak lawan terjerumus dalam perkiraan-perkiraan yang salah. Disamping itu juga untuk membentuk jembatan udara Tanjung Pinang- Pekanbaru guna membuka jalan ke arah pembebasan perbatasan daerah-daerah Sumatra utara dan barat.

Peranan Lanud Tanjung Pinang dalam penumpasan PRRI tersebut sangant besar. Tidak hanya dalam pelaksanaan operasi tegas tetapi juga dalam pelaksanaan operasi sapta marga dan operasi 17 agustus. Dalam operasi penumpasan pemberontakan PRRI di sumatra ini, AURI melibatkan beberapa jenis pesawat yang berpangkalan di Lanud Tanjung Pinang (Lanud Kijang). Berbagai peran yang dilaksanakan oleh pesawat-pesawat AURI di Lanud Tanjung Pinang dalam operasi tersebut yaitu:

1. Memutuskan hubungan/komunikasi antar daerah-daerah yang berupa Radio, titian-titian, jembatan-jembatan umum, jembatan air dan sebagainya.

2. Pengintaian udara yang menggunakan pesawat Harvard maupun pesawat catalina.

3. Serangan udara untuk membebaskan lapangan udara Simpang Tiga di Pekanbaru dengan menggunakan pesawat pembom B-25 Mitchell dan pemburu P-51 Mustang.

4. Penerjunan PGT dan RPKAD yang tergabung dalam Komando X-Ray dengan mengerahkan pesawat-pesawat transport C-47 Dakota di Pekanbaru.

5. Mengawal dan mengamankan gerakan operasi pasukan di darat dari dumai ke rumbai dan pasukan Brigjen Djati Kusumo dan mengadakan gerakan pengejaran terhadap pemberontak yang berhasil meloloskan diri, serta mengawal gerakan operasi laut dari ALRI dari Bengkalis menuju Pekanbaru.

6. Melumpuhkan pertahanan pemberontak di daerah Lubuk Djambi dan Muara Makat (daerah-daerah disekitar Riau) oleh pesawat B-25 Mitchell dan P-51 Mustang.

7. Melakukan operasi jembatan udara dalam rangka angkutan logistic antara Lanud Tanjung Pinang-Pekanbaru-Rengat dengan menggunakan pesawat C-47 Dakota.

8. Melaksanakan angkutan udara antara Tanjung Pinang-Jakarta –Medan menggunakan pesawat C-47 Dakota.

9. Melaksanakan patroli udara diatas kepulauan Riau.

10. Serangan udara untuk merebut pangkalan udara Padang dengan menggunakan sandi operasi “Red Flight” dan “Blue Flight” melancarkan serangan dengan menggunakan pesawat B-25 Mitchell dan P-51 Mustang.

11. Menerjunkan PGT dan RPKAD dengan menggunakan 10 pesawat angkut C-47 Dakota yang dikawal oleh 4 pesawat P-51 Mustang dan 2 B-25 Mitchell di Padang.

12. Melakukan pengejaran terhadap pasukan Nainggolan yang melarikan ke daerah Tapanuli dengan menggunakan pesawat P-51 Mustang dan B-25 Mitchell.

Pelaksanaan operasi gabungan APRI dalam rangka penumpasan PRRI merupakan sikap tegas pemerintah Rl terhadap usaha golongan yang tidak puas terhadap kebijaksanaan pemerintah pusat pada waktu itu.   Sikap pemerintah ini diambil setelah pendekatan yang dilakukan tidak berhasil.

Operasi ini merupakan gabungan yang pertama, bagi AURI merupakan operasi yang cukup besar dengan hasil yang gemilang, walaupun kondisi personel dan materiil pada waktu itu sangat memprihatinkan. Keterbatasan jumlah personel khususnya awak pesawat bila dibandingkan dengan banyaknya operasi-operasi yang dilaksanakan, ditambah lagi kondisi pesawat terbang yang sudah tua dengan jumlah yang sangat terbatas dan kesulitan-kesulitan dalam memperoleh suku cadang, itulah kondisi AURI saat itu.

Unsur kekuatan udara operasional AU saat itu tergabung dalam Komando Gabungan Komposisi (KGK) yang terdiri dari Skadron I B-25 Mitchell, Skadron II C-47 Dakota, Skadron IIl P-51 Mustang, Skadron IV T-6 Harvard, Skadron V PBY-Catalina dan Skadron DAUM C-47 Dakota.

Latar Belakang pembuatan Monumen Lanud Tanjung Pinang.

Lanud Tanjung Pinang merupakan Home Base kekuatan udara yang terdiri dari pesawat-pesawat TNI AU dan Wing Garuda. Peranan TNI AU dalam operasi tersebut sejak hari “H" bertepatan tanggal 12 Maret 1958 yang ditetapkan bagi pelaksanaan Operasi Tegas dalam rangka penumpasan pemberontakan PRRI didaerah Sumatra sampai selesai, Tni Angkatan Udara melibatkan berbagai jenis pesawat yang berpangkalan di pangkalan udara Tanjung Pinang sebanyak 40 Buah pesawat terdiri dari 26 pesawat C-47 Dakota, 10 pesawat P-51 Mustang dan 4 pesawat B-25 Bomber Mitchell. Berbagai peran yang dilaksanakan oleh TNI Angkatan Udara dalam operasi tersebut sebagai berikut:

1. Melaksanakan operasi pengintaian udara yang mempergunakan pesawat Harvard maupun pesawat Catalina.

2. Pada tanggal 10 Februari 1958 menyebarkan Famflet diatas kota padang.

Dan dua B-25 Mitchell di Padang.Melakukan pengejaran terhadap pasukan Nainggolan yang melarikan ke daerah Tapanuli dengan menggunakan pesawat P-51 Mustang dan B-25 Mitchell. Pelaksanaan operasi gabungan APRI dalam rangka penumpasan PRRI merupakan sikap tegas pemerintah Rl terhadap usaha golongan yang tidak puas terhadap kebijaksanaan pemerintah pusat pada waktu itu. Sikap pemerintah ini diarnbil setelah pendekatan yang dilakukan tidak berhasil. Operasi ini merupakan gabungan yang pertama, bagi AURI merupakan operasi yang cukup besar dengan hasil yang gemilang, walaupun kondisi personel dan materiil pada waktu itu sangat memprihatinkan. Keterbatasan jumlah personel khususnya awak pesawat bila dibandingkan dengan banyaknya operasi-operasi yang dilaksanakan, ditambah lagi kondisi pesawat terbang yang sudah tua dengan jumlah yang sangat terbatas dan kesulitan-kesulitan dalam memperoleh suku cadang, itulah kondisi AURI saat itu. Unsur kekuatan udara operasional AU saat itu tergabung dalam Komando Gabungan Komposisi (KGK) yang terdiri dari Skadron I B-25 Mitchell, Skadron II C-47 Dakota, Skadron III P-51 Mustang, Skadron IV T-6 Harvard, Skadron V PBY-Catalina dan Skadron DAUM C-47 Dakota. Latar Belakang pembuatan Monumen Lanud Tanjung Pinang. Lanud Tanjung Pinang merupakan Home Base kekuatan udara yang terdiri dari pesawat-pesawat TNI AU dan Wing Garuda. Peranan TNI AU dalam operasi tersebut sejak hari "H" bertepatan tanggal 12 Maret 1958 yang ditetapkan bagi pelaksanaan Operasi Tegas dalam rangka penumpasan pemberontakan PRRI di daerah Sumatra sampai selesai. TNI Angkatan Udara melibatkan berbagai jenis pesawat yang berpangkalan di pangkalan udara Tanjung Pinang sebanyak 40 buah pesawat terdiri dari 26 pesawat C-47 Dakota, 10 pesawat P-51 Mustang, dan 4 pesawat B-25 Bomber Mitchell. Berbagai peran yang dilaksanakan TNI Angkatan Udara dalam operasi tersebut sebagai berikut:

1. Melaksanakan operasi pengintaian udara yang mempergunakan pesawat Harvard maupun pesawat Catalina.

2. Pada tanggal 10 pebruari 1958 menyebarkan pamphlet diatas kota Padang Sumatera Barat yang diduduki PRRI, dengan dua buah pesawat pembom B-25 Mitchell yang diterbangkan oleh Mayor Udara Soetopo dan Kapten Udara Sri MulyonoHerlambang.

3. Mengahancurkan pertahanan lawan mengadakan serangan udara Simpang Tiga Pekanbaru oleh pesawat B-25 Mitchell dan pesawat P-51 Mustang.

4. Melaksanakan penerjunan pasukan PGT dan RPKAD untuk pembebasan Pekanbaru dan Dumai menggunakan pesawat C-47 Dakota dengan kekuatan 300 orang dipimpin oleh Letnan Udara Satu S. Sukani. Selama berlangsungnya penerjunan tersebut pesawat B-25 Mitchell terus rnelakukan perlindungan udara.

5. Melakukan operasi jembatan udara dalam rangka angkutan logistik antara Lanud Tanjung Pinang Pekanbaru Rengat dengan menggunakan pesawat C-47 Dakota.

6. Melaksanakan angkutan udara bagi pasukan APRI antara Tanjung Pinang - Jakarta Medan menggunakan pesawat C-27 Dakota.

7. Menghancurkan obyek vital lawan berupa stasiun RRI di Padang dan Bukit Tinggi.

8. Melaksanakan operasi perlindungan udara terhadap gerakan pasukan darat yang menyerang kedudukan lawan, menggunakan pesawat P-51 Mustang dan B-25 Mitchell.

9. Mengawal dan mengamankan gerakan operasi termasuk gerakan pengejaran terhadap pemberontak-pemberontak yang berhasil meloloskan diri keluar kota.

10. Melaksanakan patroli udara diatas wilayah Kepulauan Riau.

Pembangunan monumen di Lanud Tanung Pinang dimaksud sebagai sarana pelestarian nilai-nilai kejuangan dan pengabdian jasa dan peran TNI Angkatan Udara dalam menegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Disamping itu dapat membangkitkan profesionalisme bagi generasi penerus Angkatan Udara, membangkitkan kembali rasa kesatuan dan meningkatkan minat dirgantara di lingkungan masyarakat Kepulauan Riau. Isi atau keterangan Relief di dalam monument tersebut adalah :

1. Pasukan diberangkatkan dari Jakarta menuju Tanjung Pinang dengan menggunakan kapal Tampomas dari pelabuhan Tanjung Priok.

2. Kekuatan Udara yang terdiri dari pesawat TNI Angkatan Udara dan Wing Garuda di Lanud Tanjung Pinang terdiri dari pesawat Harvard, Catalina, C-47 Dakota, P-51 Mustang dan Pembom B-25 Mitchell.

3. Pesawat Catalina dan Harvard digunakan sebagai pesawat Intai dalam rangka pembebasan Pekanbaru dan Dumai.

4. Pasukan PGT AURI dan RPKAD Angkatan Darat menuju daerah penerjunan di Pekanbaru dengan kekuatan 300 personel dibawah pimpinan Letnan Udara Satu S. Sukani.

5. Pasukan PGT AURI dan RPKAD Angkatan Darat diterjunkan didaerah musuh sebelumnya telah dibersihkan melalui serangan udara oleh pesawat Pembom B-25 Mitchell.

6. Pasukan PGT dan RPKAD berhasil melawan anggota PRRI dan merampas persenjataannya.

Isi atau Keterangan Relief di dalam monumen tersebut adalah ;

1. Kekuatan pasukan dalam rangka Operasi PRRI di Sumatera terdiri dari pasukan PGT AURI dan RPKAD Angkatan Darat. Pasukan diberangkatakan dari Jakarta menuju Tanjung Pinang dengan mengenakan Kapal Tampomas dari Pelabuhan Tanjung Priok.
2. Kekuatan udara yang terdiri dari pesawat TNI Angkatan Udara dan Wing Garuda di Lanud Tanjung Pinang terdiri dari pesawat Harvard, Catalina, C-47 Dakota, P-51 Mustang,dan pembom B-25 Mitchell.
3. Pesawat Catalina dan Harvard digunakan sebagai pesawat intai yang mempunyai tugas pengintaian di daerah-daerah musuh sebelum penerjunan pasukan dilaksanakan antara lain dalam rangka pembebasan Pekanbaru dan Dumai.
4. Pasukan PGT AURI dan RPKAD Angkatan Darat dengan langkah yang pasti seorang demi seorang memasuki pesawat C-47 Dakota yang akan diterbangkan menuju daerah penerjunan di Pekanbaru dengan kekuatan 300 personel di bawah pimpinan Letnan Udara Satu S. Sukani.
5. Pasukan PGT AURI dan RPKAD Angkatan Darat diterjunkan di daerah musuh didaerah tersebut sebelumnya telah dibersihkan melalui serangan udara oleh pesawat pembom B-25 Mitchell.
6. Pasukan PGT dan RPKAD berhasil melawan anggota PRRI dan merampas persenjataannya dalam melancarkan Operasi Tegas di daerah Pekanbaru.


Persiapan Pemberangkatan Pasukan dengan c 47
Bandara Kijang Tempo Doeloe
B 26 siap terbang menumpas PRRI

Pasukan PGT sedang baca situasi

Ceramah Psikologi di Lanud Tanjungpinang

Written By david on Senin, 23 September 2013 | 23.23



Dinas Psikologi TNI Angkatan Udara mengadakan kegiatan Flying Psikologi di Lanud Tanjungpinang, bertempat di bertempat di Gedung Dirgantara Lanud Tanjungpinang Selasa, (24/9).  Kegiatan yang berlangsung selama satu hari ini di isi dengan ceramah dan pengisian angket berkaitan dengan psikologi. Ceramah yang disampaikan oleh Mayor Kes Murti P yang menjabat sebagai Kepala Unit Asepsi Labpsibangan di Dinas Psikologi TNI AU tersebut dihadiri oleh para pejabat dan seluruh personel Lanud Tanjungpinang.  
Mayor  Kes Murti P dalam ceramanya menyampaikan materi diantaranya tentang integritas prajurit TNI AU. Dikatakan, pembinaa intergritas prajurit TNI  diantaranya keterbukaan, recod lengkap, pertanggung jawaban yang jelas dan ketegasan. Pembinaan Intergritas juga mampu menumbuhkan sense of belonging dan komitmen terhadap organisasi dan terciptnyaa suasana yang kondusif serta jauh dari perilaku yang menyimpang.   
Ceramah tersebut juga membahas tentang penegakan intergritas untuk mencapai disiplin tinggi. Dijelaskan, bahwa disiplin adalah nafas hidup prajurit yang dimulai dari diri pribadi, dan untuk meninngkatkan disiplin tersebut perlu ada dorongan dari diri pribadi prajurit dan lingkungannya.   Sehingga hal tersebut dapat berpengaruh terhadap ketujuh nilai kemiliteran yaitu loyalitas, duty (utamakan tugas), respek, mengutamakan kepentingan umum, honor (kehormatan) dan  integritas serta keberanian.
Selain materi ceramah tentang intergritas prajurit, acara tersebut juga membahas tentang keharmonisan rumah tangga, Pada intinya kehidupan berumah tangga itu harus saling percaya, jujur, terbuka, terjalin komunikasi yang baik dan sebagainya.  Usai memberikan materi ceramah acara dilanjutkan dengan pengisian angket menyangkut psikologi.

Tim Aju Angkasa Yudha 2013 Tinjau Kesiapan Bandara Hang Nadim

Written By david on Minggu, 22 September 2013 | 20.31

Tim aju Angkasa Yudha saat meninjau tempat latihan


Latihan puncak TNI AU "Angkasa Yudha" (AYU) tahun 2013 rencananya akan digelar pada akhir Oktober 2013 mendatang di wilayah Provinsi Kepulauan Riau.Tim aju Angkasa Yudha yang dipimpin oleh Marsekal Mudah TNI Sudipo Handoyo selaku Direktur Latihan (Dirlat) beserta rombongan  tiba di Bandara Hang Nadim, Batam sekitar pukul 08.30 WIB dengan menggunakan pesawat C-130 Hercules. Kedatangan Tim aju tersebut disambut Komandan Lanud Tanjungpinang Letkol Pnb Hendrayansyah S.Sos didampingi para pejabat Lanud Tanjungpinang, di VIP Room Bandara Hang Nadim, Batam Jum’at (20/09).
Kunjungan tim aju Angkasa Yudha 2013 tersebut untuk melihat secara langsung kesiapan dan fasilitas-fasilitas yang dimiliki  Bandara Hang Nadim dan Lanud Tanjungpinang dalam mendukung pelaksanaan latihan yang rencananya akan melibatkan puluhan pesawat baik tempur, angkut, intai, helikopter, radar dan Paskhas serta satuan jajaran TNI AU Lainnya.
Komandan Lanud Tanjungpinang Letkol Pnb Hendrayansyah S.Sos  dalam paparannya di ruang VIP Room Bandara Hang Nadim menjelaskan kesiapan  dukungan pada pelaksanaan Latihan Akbar TNI AU tersebut.  Disamping itu pihak Bandara juga menyampaikan situasi dan kondisi serta fasilias Bandara diantaranya dari Kepala ATC Bapak Irwan Syah  Kepala Terminal  Bapak Utomo dan Kepala Opsdal Saiful Bachri tentang aktivitas penerbangan, keadaan cuaca dan penempatan parkir pesawat.
Ditempat yang sama Marsda TNI Sudipo Handoyo mengatakan kunjungan Tim Aju untuk melihat kondisi di Batam baik kesiapan maupun kekurangnnya. Demi lancarnya pelaksanaan Latihan Angkasa Yudha 2013, Marsda TNI Sudipo Handoyo berharap adanya koordinasi yang baik  dari semua pihak baik pelaku maupun seluruh unsur pendukung.
Usai paparan, Ketua Tim aju dan rombongan melaksanakan inspeksi di seputaran Bandara Hang Nadim diantaranya peninjauan Run Way, mess dan sarana pendukung lainnya.


TNI Lakasanakan Kegiatan Donor Darah

Written By david on Rabu, 18 September 2013 | 01.15

Dalam rangka memperingati HUT TNI ke-68 jajaran TNI bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Tanjungpinang melaksanakan bhakti sosial donor darah di Makolantamal IV Tanjungpinang (Rabu,18/9)
Bhakti sosial donor darah yang dilaksanakan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian TNI wilayah Kepri dalam mendukung PMI dengan semboyan “Setetes darah berguna untuk sesama” untuk membantu menyediakan darah bagi masyarakat yang membutuhkan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT).
Donor darah yang dilaksanakan kali ini diikuti perwakilan TNI yang berada di Kepri diantaranya Angkatan Darat (Korem 033/WP dan Kodim Bintan), TNI Angkatan Laut (Lantamal IV, Lanudal dan Yomarhanlan), TNI Angkatan Udara (Lanud Tanjungpinang) dan Pemuda Panca Marga serta FKPPI Tanjungpinang.
Komandan Lantamal IV Laksamana Pertama TNI Agus Heryana, S.E pada kesempatan tersebut melakukan peninjauan secara langsung jalannya pelaksanaan donor darah yang diikuti sebanyak 150 pendonor.
Pelaksanan Bhakri sosial di Mako Lantamal IV tersebut dihadiri Wakil Komandan Lantamal (Wadan Lantamal) IV,  serta Perwira Ketiga Angkatan. (Pentak Tpi)

Hari Bhakti TNI AU Simbol dan Roh Perjuangan Mengawal Ibu Pertiwi

Written By david on Selasa, 30 Juli 2013 | 18.48




 Upacara Hari Bhakti ke-66 TNI AU, tanggal 29 Juli 2013  diperingati secara sederhana oleh seluruh personel di Lapangan Upacara Lanud Tanjungpinang, Senin (29/7). Bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup) Komandan Lanud Tanjungpinang Letkol Pnb Hendrayansyah S.Sos  dan Komandan Upacara (Dan Up) Kapten Pom Jarot Nyamantoro.

            Peringatan Hari Bhakti TNI AU adalah upaya mengenang  keteladanan, pengorbanan serta simbol dan roh perjuangan TNI AU dalam mengawal Ibu Pertiwi..  Sepanjang sejarah  perjuangan TNI AU ada dua  peristiwa yang  terjadi pada  tanggal 29 Juli 1947 silam. Pertama, pada pagi hari, operasi serangan udara pertama yang dilakukan oleh para kadet penerbang (Sutardjo Sigit, Suharnoko Harbani dan Mulyono) dibantu tiga orang penembak udara (Sutardjo, Kaput dan Dulrachman) sukses dalam memporak-porandakan kamp-kamp Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Kedua, pada sore harinya, gugur tiga orang pelopor TNI AU yakni Komodor Udara Agustinus Adicutjipto, Komodor Udara Prof. Dr Abdulrachman Saleh dan Opsir Muda Udara I Adisoemarmo ketika pesawat Dakota VT-CLA yang mereka tumpangi  saat membawa obat-obatan bantuan Palang Merah Malaya untuk Indonesia ditembak jatuh oleh pesawat pemburu Kitty Hawk Belanda sesaat sebelum mendarat di Landasan Maguwo (Sekarang Lanud Adisutjipto).

            Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal I.B. Putu Dunia dalam sambutannya yang dibacakan oleh Irup mengungkapkan rasa hormat dan bangga kepada para pelopor TNI AU tersebut dan  mengingatkan kepada generasi penerus TNI AU agar nilai-nilai luhur yang ditanamkan berupa kejuangan, disiplin, keberanian, profesionalisme, keteladanan dan semangat pengorbanan dapat diaplikasikan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

            Kasau menekankan, bahwa tantangan tugas TNI AU kedepan akan semakin kompleks sementara keterbatasa diberbagai bidang harus dihadapi. Kondisi ini mengharuskan  untuk berfikir kreatif, rasional dan singergis, dalam mencari solusi terbaik,  dengan mengedepankan akuntabilitas, keterbukaan, transparansi dan taat hukum. Diantranya kedepan TNI AU dituntut mampu menyiapkan alustista secara maksimal agar pesawat siap terbang, sehingga baik awak pesawat dan pendukung serta seluruh personel TNI AU dituntut bekerja lebih keras, tekun, serius dan cermat. Kesiapan operasi tidak lepas dari Keselamatan Terbang dan Keraja, sehingga secara periodik harus diingatkan dan dilatihkan, tidak terbuai pada kemapanan, rasa nyaman, serta tetap waspada dan harus diantisipasi.

            Sebelum mengakhiri sambutannya Kasau menyampaikan bahwa dalam upaya mendukung demokrasi, keterbukaan informasi dan kebebasan pers diharapkan tidak  berbenturan dengan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Ada hal-hal yang harus dijaga dan diperlakukan sebagai informasi terbatas.  Sementara dalam kehidupan bermasyarakat personel TNI AU harus taat kepada peraturan dan hukum, waspadai penggunaan dan peredaran narkoba, penyakit HIV serta perkembangan penyakit sosial lainnya.  .  

            Dalam rangka memperingati Hari Bhakti ke- 66 TNI AU, Lanud Tanjungpinang telah menggelar beberapa kegiatan diantaranya, bakti sosial kesehatan (donor darah dan pengobatan gratis), baksos kebersihan di TMP Pusara Bakti Tanjungpinang dan anjangsana kepanti asuhan.

 
Editor: Yahessa Tutorial | Support: Johny Template
Copyright © 2013-2015. Lanud Tanjungpinang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger